“Kau seharusnya diberi kesempatan untuk membalas dendam sebelum mati.”
Dengan kalimat yang diucapkan pelan itu, hatiku hancur. Kehangatan tak lagi terasa di tangan yang mencengkeram kepalaku.
“Kukira kau sudah mati.”
Senyum tersungging di wajah dingin itu. Rasa lega karena kesempatan untuk membalas dendam tidak hilang. Rasa kemenangan karena tidak kehilangan mangsanya. Ia memiliki kesombongan yang halus dan sinisme yang indah, alih-alih kepolosan yang kikuk dan kasih sayang yang canggung. Banyak yang telah berubah, begitu pula dirinya.
“Sebagaimana kau telah jatuh, aku telah bangkit.”
Aku sudah terbiasa menanggung rasa sakit. Tetapi menanggung kesenangan dan hasrat adalah hal yang asing.
“Aku ingin mengukirnya. Semua kenangan malam itu.”
Jadi, aku melarikan diri, sambil membawa anaknya.






Komentar